Label

Tayangan halaman minggu lalu

Tampilkan postingan dengan label Berita Kesenian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Kesenian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 April 2013

-Filosofi Topeng-





Filosofi Topeng









Belum lama ini saya mengunjungi Museum Nasional di bilangan Jalan Merdeka, saya melihat ada koleksi topeng-topeng yang terpajang disana. Berbagai rupa ekspresi wajah yang ditampilkan, ada yang marah, sedih, datar, menyeringai, dan tanpa ekspresi. Ada pula berbentuk wajah manusia, kera, monster. Begitu banyak macam rupa topeng-topeng yang dipamerkan.





Topeng-topeng

Saat memandang lama suatu topeng bermuka baik, teringat ane kata-kata seorang teman bahwa dia itu orangnya baik, suka menolong, perhatian, dan lemah lembut suaranya saat berbicara. Saat pandangan berpindah ke topeng bermuka marah, teringat kata-kata teman yang lain mengenai bahwa dia pemarah, suka berkata menyakitkan, kasar, dan sikapnya tidak sopan santun. Kemudian berpindah memandangi topeng datar, kembali teringat kata-kata teman yang berbeda lagi bahwa dia biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa. Begitu berbedanya mengenai dia yang dibicarakan teman-teman sebelumnya padahal adalah sama orangnya.

Mengapa orang yang dibicarakan bisa berbeda-beda sifat dimata orang lain? Dari sini tampaklah bahwa orang itu telah memakai topeng yang berbeda-beda dimata orang lain yang berbeda-beda pula. Disadari atau tidak disadari. Masuk akal dan alamiah, sebab orang yang sudah dikenal biasanya akan bersikap berbeda dengan orang yang baru kenal. Istilahnya jaim (jaga image).





Dua Topeng

Kadang-kadang saat berbuat kebaikan, dinilai sebagai keburukan. Di mata orang kita dianggap berbuat baik sementara dimata orang lain dianggap berbuat keburukan. Kadang pula pemakai topeng (dalam arti kiasan) sebenarnya ada maksud tersembunyi di dalam hatinya sehingga dipandang orang baik, padahal dalam hatinya tidak. Dari sini, saya berkesimpulan hanya niat tulus yang pantas mendapatkan ganjarannya entah terlepas dari pandangan orang lain yang memandang dari topeng-topeng yang dikenakan kita. Biarlah Allah yang mengetahui dan membalasnya.

Topeng. Setiap orang memiliki topeng-topengnya masing-masing karena itulah terdapat berbagai macam persepsi, pendapat yang berbeda, dan kesan yang berbeda-beda. Untuk melihat kesejatian kepribadian seseorang haruslah melihat dari berbagai sudut pandang orang-orang yang berbeda supaya mendapat gambaran utuh mengenai kepribadian seseorang karena masing-masing orang melihat dirinya dengan topengnya yang berbeda-beda.

Terhadap orang yang sengaja memakai topeng dalam arti kiasan, kemungkinan dia memiliki maksud tertentu atas sesuatu atau bisa jadi menyembunyikan sesuatu. Topeng pertama adalah topeng politikus dimana dia mencoba untuk mendekati dan persuasif untuk menggapai keinginannya kendati terkadang hal itu sebenarnya tidak baik. Bingung? Contohnya begini, ada kue di meja. Hanya ada 1 kue yang tersisa dan itu untuk orang lain yang di dekatnya maka orang itu diajak berbicara mengenai hal lain. Sambil mengobrol dengannya, dia mencomot kue yang seharusnya untuk orang itu. Orang itu sendiri tak sadar, mungkin lupa, karena keasikan ngobrol dengan pemakai topeng politikus.

Sedang tipe yang menyembunyikan sesuatu bisa dikatakan sebagai tipe pemakai topeng pelindung. Dia hendak menyembunyikan sesuatu entah karena ada hal-hal tabu ataukah untuk melindungi hal-hal yang dianggap aibnya. Topeng pelindung ini bisa bermacam-macam topeng, bisa berupa topeng marah, topeng datar, atau topeng bermuka seram tergantung kepribadian dan nilai sesuatu yang disembunyikan tersebut.

Begitu kompleksnya topeng-topeng yang dipakai manusia seperti halnya kompleksnya kepribadian seseorang. Begitulah. Walau demikian yang terpenting adalah menjadi diri sendiri terlepas dari topeng-topeng yang bagaimana dilihat oleh orang lain. Biarlah orang lain menilai apa-apa sesuai pandangan matanya sendiri, karena inilah aku, inilah diriku apa adanya. Jika tidak disukai maka tak mengapa karena inilah topengku yang kumiliki selain itu pasti ada yang menyukai topeng yang berbeda selain topeng itu.





Topeng Hitam

Kamis, 11 April 2013

Apa itu Naskah?





WEDNESDAY, JULY 19, 2006




Naskah
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.


(Dialihkan dari manuskrip)


Suatu naskah manuskrip ( bahasa latin manuscript: manu scriptusditulis tangan), secara khusus, adalah semua dokumen tertulis yang ditulis tangan, dibedakan dari dokumen cetakan atau perbanyakannya dengan cara lain. Kata 'naskah' diambil dari bahasa Arab nuskhatumyang berarti sebuah potongan kertas.
NASKAH DALAM SEJARAH


Sebelum ditemukannyapercetakan, semua dokumen tertulis harus dibuat dan diperbanyak dengan ditulis tangan. Biasanya, naskah dibuat dalam bentuk gulungan atau buku, dan untaian naskah lontar/nipah, dluwang/daluang (kertas tradisional berserat kasar dari kulit pohon), dan kertas.


Di Asia Tenggara, pada millennium pertama, dokumen penting dibuat pada lempeng tembaga yang diperhalus dengan pembakaran, dan diukir dengan pahat logam. Di Filipina, misalnya, pada abad ke-9, dokumen tidak diukir dengan pahat, tapi lebih seperti pencetak dot-matriks masa kini. Dokumen seperti ini jarang sekali ditemukan, dibanding naskah-naskah yang tertuang pada daun atau bambu. Namun, iklim tropis yang lembab menyebabkan naskah-naskah dalam bahan organik tersebut mudah sekali rusak. Di Nusantara, naskah-naskah yang dibuat pada daun lontar/nipah dan daluang ini banyak digunakan. Sebagaimana sekarang, naskah pada daluang ditulis menggunakan pena/kuas, sedangkan pada dedaunan, tulisannya diukir penggunakan semacam pisau kecil yang disebut (dalam bahasa Sunda) pisau panggot.


Di Barat pada zaman klasik hingga abad-abad awal masa Kristen naskah-naskah ditulis tanpa spasi antarkata (scriptocontinua)sehingga akan menyulitkan bagi yang tidak terlatih. Salinan naskah-naskah tersebut biasanya ditulis dalam aksara Yunani dan bahasa Latin dan berasal dari abad ke-4 hingga abad ke-8, digolongkan berdasarkan penggunaan huruf kapital atau huruf kecil.
NASKAH MASA KINI


Menurut Library and Information Centre, suatu naskah adalah semua barang tulisan tangan yang ada pada koleksi perpustakaan atau arsip; misalnya, surat-surat atau buku harian milik seseorang yang ada pada koleksi perpustakaan.


Dalam konteks lain, penggunaan istilah "naskah" tidak semata untuk sesuatu yang ditulis tangan.


Dalam penerbitan buku, majalah, dan musik, naskah berarti salinan asli karya yang ditulis oleh seorang pengarang atau komponis. Dalam perfilman dan teater, naskah berarti teks pemain drama, yang digunakan oleh perusahaan teater atau kru film saat dibuatnya pertunjukan atau pembuatan film


dicomot seperti apa-adanya dari Wikipedia Indonesia